Senin, 02 Juni 2008

Ketika Hati Nurani Tak Lagi Terusik


Seperti biasa, pagi ini matahari memancarkan keagungannya, menyapa setiap penduduk bumi dengan sinar penuh pengharapan. Tapi mengapa terasa begitu angkuh ya, padahal waktu baru menunjukkan pukul 07.30 WIB? Tak usahlah terlalu terik, kami tahu kau satu-satunya karya Tuhan yang mampu memberikan terang dan kehangatan yang sempurna.

Seperti biasa pula, terminal Kampung Melayu mulai dipadati orang-orang yang tengah menunggu bis. Segerombolan orang menunggu di pinggir terminal, mencoba mencari perlindungan dari sengatan sang surya di bawah bayang-bayang papan directory. Sebagian lagi tak peduli, dan membiarkan peluh tetap berproduksi. Tak lama bis nomor 912, jurusan Kp. Melayu-Blok M via tol memasuki terminal. Orang-orang mulai bergerak mendekati bis itu. Berlari-lari dan berlomba untuk segera naik. Saling rebut dan berusaha saling mendahului. Wah...benar-benar luar biasa orang-orang itu, begitu gigih berusaha agar bisa duduk dalam bis. Tak berapa lama bis pun mulai penuh. Sebagian penumpang mendapatkan duduk namun beberapa orang harus puas berdiri.

Meskipun bis sudah penuh, tampaknya sang supir masih enggan untuk memberangkatkan mercedez besar itu. Ia turun dari mobil dan berjalan menghampiri pedagang asongan. Menyalakan sebatang rokok kemudian mengipas-ngipaskan topi berwarna merahnya. Seraya menunggu bis berjalan, sebagian penumpang mencoba membunuh waktu mereka dengan berbagai cara. Penumpang di depan, seorang pemuda tanggung berperawakan tampan dengan rambut ditata spike, mengeluarkan ipod dan mulai mendengarkan lagu. Hmm…di bis umum yang sarat dengan copet , ada juga orang yang berani mempertaruhkan kekayaannya. But…what ever deh, mungkin bagi dia kehilangan i pod bukan hal besar.

Tak berapa lama, seorang bapak..bukan bukan bapak, lebih tepatnya seorang kakek kurus berjalan menuju bis itu. Sedikit terseok-seok namun ia tetap berusaha berjalan secapat mungkin. Wajahnya penuh kerutan dengan kantong mata yang cukup tebal. Kulitnya hitam legam dan kepalanya hanya dihiasi rambut yang tumbuh jarang-jarang. Sepertinya ia menggunakan minyak sehingga rambutnya tampak shiny. Ia menggunakan baju serba coklat kusam dengan menjinjing tas berwarna hijau army. Dilihat dari baju yang ia kenakan, tampaknya ia adalah seorang veteran yang hingga usia senja tenaganya masih diberdayakan.

Si kakekpun segera menaiki bis, celingak-celingkuk mencari tempat duduk kosong. Dibawanya tubuh renta itu ke bagian belakang bis, memastikan tak ada lagi bangku kosong untuk tubuh kecilnya. Iapun kembali melangkahkan kaki menuju ke depan dan berdiri disamping pemuda parlente tadi.

Halo..halo..tidak adakah diantara kalian wahai penumpang yang peduli dengan si kakek tua ini?!?!? Tubuh rentanya tidak sekuat Anda-anda yang duduk! Pemuda parlente itu bahkan seolah tak menyadari keberadaan kakek tua itu. Di depan si kakek, duduklah pemuda berperawakan besar, membolak-balik koran. Tak jauh dari kakek itu, seorang wanita muda yang hanya terus memandangi si kake. Hoyy…..apa kalian tidak kasian melihat kakek ini? Kalau saja bisa, akan kuberi dia tempat duduk. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah sebuah nyawa tak berwujud. Melayang-layang di dalam bis, mengamati beragam penumpang seraya menerka-nerka alam pikirannya. Tolonggg…tolong beri kakek ini tempat duduk, sebelum ia tumbang, hingga jiwanya menemani aku melayang-layang tak karuan.

Senin, 28 April 2008

Sebut Aku Pembunuh !!!

Sebut aku 'Pembunuh' !!! Tolong panggil aku demikian karena aku suka sekali. Terdengar dingin dan menakutkan meskipun tak perlu memiliki wajah bengis dan tubuh besar. Tak ada pisau ataupun benda tajam lainnya. Hanya kenikmatan yang aku tawarkan. Kenikmatan yang sering aku tertawakan bila melihat orang-orang Indon mengantri mendapatkan aku.

Hmm..mengapa aku menertawakan orang Indon? Ya..karena mereka memang patut di tertawakan. Termasuk penulis blog ini…yang rela mengantri hanya untuk mendapatkan aku di Starbuck. Padahal aku akan dengan mudah mengalir, menyusup, menelusuri tubuhnya hingga ke jantung. Memacunya untuk berdegup dengan cepat. Deg..deg..deg.. Membuatnya tak bisa berpikir dan selalu berkeringat. Tapi, dasar bodoh. Selalu saja ia mencari aku bila setumpuk kerjaan menanti dan matanya tak mau berkompromi.

Ha..ha..ha..sekali lagi aku tertawa. Menertawakan orang Indon lagi. Heh bodoh…, bila kau menggunakan otakmu untuk memproduksi aku, tak perlu kau menambah kaya negara yang sudah kaya. Kalau sudah bodoh..ya bodoh saja..Tapi, aku juga berperan disini. Karena aku pembunuh…pembunuh keuangan mereka, pembunuh rasa kantuk mereka, pembunuh rasa independent mereka. Ha..ha..ha..

Sekali lagi, panggil aku Pembunuh!! Teriak yang kencang!! Aku suka mendengarnya, serasa orgasme berulang-ulang.